BLANTERWISDOM101

MAKAN WARTEG DI VIENNA

Minggu, 10 Juli 2016
Sudah hari ke-7 saya di eropa. Sejauh ini belum pernah makan nasi selama disini. Susah sekali menemukan makanan khas asia tenggara, ataupun makanan india disini. Terakhir makan yang rasanya masuk di lidah adalah martabak khas arab (bukan martabak india) yang hanya berupa roti cane ditambah daging sedikit.

Di Vienna (Wina), ibukota austria terdapat restoran pakistani yang menjual makanan halal dengan konsep All you can eat, Pay as you wish. Ya, restoran ini cukup terkenal di kalangan traveller dan mahasiswa karena konsepnya yang unik.
Makan terserah, bayarnya terserah. 

Karena ingin makan nasi sekaligus membuktikannya, saya ke restoran itu. Der Wiener Deewan namanya. Terletak di tengah kota, tapi perlu sedikit berjalan 300an meter dari stasiun u-bahn terdekat. Tempatnya cukup luas. Selalu ramai, terutama mahasiswa, dan juga travellers. Banyak review positif dari internet. Sepanjang hari warungnya ramai. Kapasitas yang ada sekitar 20 meja pun hampir selalu penuh.

Hari ini karena kangennya dengan nasi dan masakan asia, saya sampai 2x makan disini. Pertama makan siang. Kedua makan malam. Pada makan siang, karena masih malu-malu saya hanya ambil nasi dan lauk sedikit sekali. Menunya? Menu makanan pakistan, masih masuk di lidah indonesia lah. Ada 5 jenis lauk untuk menu hari ini. Saya menyesal hanya ambil sedikit.

Waktu mau bayar, saya pastikan kita bisa bayar semau kita. Saya tanya "sir, how much ?". Dijawab "you can pay as you wish, at the fair price". Saya jawab lagi" sir, can we pay 3 euros? (Karena di kantong saya ada recehan jumlahnya 3euro". Dia jawab " its okay if you think it is fair". "Okay sir i pay 3 euros".

Keluar dari rumah makan tersebut saya berpikir, 3euro untuk makan kok sepertinya terlalu murah ya. Kebab turki yg dagingnya hanya sedikit saja ahrganya 3,8euro. Tapi karena sesuai taglinenya, pay as you wish, ya sudah toh juga bayarnya seikhlas kita.

Malamnya karena sudah lapar, saya ingin makan di tempat itu lagi. Perasaan nggak enak menyelimuti karena hanya bayar 3 euro tadi siang. Dengan muka tebal saya datang ke tempat itu lg. Syukurlah karyawan yang jaga sudah ganti. Kesempatan kedua ini nggak mau saya sia-siakan. Saya ambil nasi 3centong dan lauk sebanyak-banyaknya. Tapi kali ini dengan membayar 6euro. Fair enough untuk mengkompensasi bayar kemurahan saya tadi pagi.

Saya kemudian berpikir, kenapa nggak ada yang berniat membuka warung seperti ini di Indonesia? Ada yang berminat? Kalau ada, saran saya siapkan tempat parkir yang luas. Karena hampir dipastikan akan banyak truk dan mobil box yang akan menjadi langganan setia warung itu. Hhehehe.
Share This :

0 Comments