BLANTERWISDOM101

SETELAH DUA TAHUN DI PAPUA

Minggu, 07 Agustus 2016

Senin, 5 Agustus 2014, dua tahun lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Papua. Tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa saya akan datang ke provinsi paling timur di Indonesia. Sebelumnya memang pernah berfikir untuk datang ke Papua, tapi ke Raja Ampat bukan Jayapura, dan dalam jangka waktu beberapa hari, bukan bertahun-tahun.

Ketika pertama mendengar kabar penempatan dulu, entah kenapa tiba-tiba pikiran saya gelap, antara sedih dan gembira (tapi banyakan sedihnya). Sebagai seorang yang senang petualangan, tentu ini kesempatan untuk eksplor indonesia timur. Tapi sebagai seorang anak muda yang besar di Jogja dan 4 tahun terbiasa dengan ibukota, saya tidak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja airmata itu keluar. Ya, Enggar yang dulu sewaktu pendidikan di LPPI sering mengejek dan menakut-nakuti teman-temannya untuk ditempatkan di Indonesia Timur, sekarang kena batunya. Dalam beberapa waktu sempat berfikir, apa yang salah dengan saya, apakah memang nilai saya selama pendidikan PCPM memang paling rendah sehingga harus "dibuang" di timur ? Atau karena saya "The Chosen One" ? Atau ini ujian dari Tuhan ?.

Selama berada di sini, ternyata saya harus lebih banyak mengucapkan Alhamdulillah daripada mengeluh. Tidak banyak orang diberi kesempatan mengeksplor Indonesia timur. Apalagi dengan tupoksi saya yang mengharuskan sering berkeliling kota-kota di Papua. Keliling di Papua itu mahal, kalau dari uang sendiri sepertinya saya tidak akan bisa sampai kota kecil Yahukimo, atau merasakan suasana Luar Negeri di Dalam Negeri ( Kompleks Freeport). Semua kota besar di Papua sudah pernah saya kunjungi. Namun sangat tragis, sampai saat ini saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Raja Ampat. Huhuuhuuu..

Dalam dua tahun ini, saya merasakan banyak perubahan dalam diri saya maupun lingkungan. Perubahan pertama dan paling utama adalah berat badan yang naik hampir 10 kilo. Tidak tahu kenapa bagaimana bisa saya yang makan seadanya dan tidak berlebihan kok bisa naik berkilo-kilo. Sejak pertama datang, kota Jayapura juga banyak berubah. Dulu pertama kali datang kecepatan internet masih lambat sekali, sekarang sudah 4G walaupun dalam sebulan terakhir sedang bermasalah karena kabel optik putus. Perubahan lain adalah yang dulunya saya hanya punya GFF Blue, sekarang jadi Gold .

Ujian terbesar selama di Papua adalah ketika saya harus kehilangan salah satu teman sekaligus sahabat saya selama disini, Deden. Dia adalah teman seangkatan PCPM yang sama-sama ditempatkan di Papua. Dia juga yang sejak awal menguatkan hati saya ketika harus menerima kenyataan ditempatkan di Papua. Almarhum Deden meninggal 8 bulan setelah kami di Papua karena kecelakaan. Sejak saat itulah yang awalnya kami berlima disini harus berkurang 1 anggota. Karena kecelakaan itu pula kami berempat yang tersisa memilih patungan membeli mobil untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Sepertinya 2 tahun sudah cukup bagi kami di Papua. Orang DSDM dulu bilang kalau anak PCPM yang ditempatkan di daerah remote hanya 2 tahun saja. Mengeksplor Papua yang awalnya sangat menarik bagi saya perlahan mulai terasa membosankan. Rutinitas berangkat pagi pulang larut malam sudah sangat menjemukan. Saya sudah tidak menemukan tantangan lagi di sini. Sudah saatnya mutasi. Tapi sepertinya saya harus mulai tidak mempercayai orang DSDM seperti omongannya dulu. Sepertinya itu hanya manisan diantara pahitnya kenyataan waktu itu agar para East Indonesia Warrior tidak bersedih. Dalam 2 tahun ini semuanya sudah berubah, tapi mungkin hanya 1 yang tidak berubah, yaitu status saya yang masih jomblo


Jayapura, 7 Agustus 2016
Share This :

0 Comments