BLANTERWISDOM101

PAPUA DALAM OPINI : JOKOWI DAN PAPUA

Kamis, 27 Oktober 2016

SERI 3 : JOKOWI DAN PAPUA

“Saya akan berkunjung ke Papua 3x dalam setahun. Bila kurang dari itu, silakan masyarakat Papua menegur saya”, demikian janji presiden Jokowi ketika pertama kali mengunjungi Papua pada Desember 2014 silam. Ya, mungkin dalam sejarah Indonesia, inilah presiden pertama yang paling sering berkunjung ke Papua. Seingat saya, sejak jadi presiden, Jokowi telah berkunjung ke Papua sebanyak lima kali (tidak dihitung sewaktu kampanye).

Orang paling senang bila sering dikunjungi dan disapa kekasihnya. Semakin intens perhatian kekasihnya, cinta yang timbul semakin besar. Begitu pula dengan Papua, sepertinya perhatian Jokowi terhadap Papua telah meninggalkan kesan bagi masyarakatnya, terlebih dimata Jokowi Lovers. Terbukti dalam beberapa pemberitaan, masyarakat bahkan anak-anak sangat antusias menyambut presidennya. Untuk taktik mendapatkan hati masyarakat yang satu ini, saya sangat salut terhadap Jokowi.



Dan seperti biasa, setiap kunjungan kenegaraan di Papua pasti presiden mengunjungi, meresmikan, atau menjanjikan suatu proyek. Seperti pada kunjungan Jokowi awal bulan ini yang meresmikan beberapa proyek pembangkit listrik dan juga meresmikan BBM satu harga di Papua. Untuk hal ini, saya sangat mendukung kebijakan Jokowi. Papua memang defisit listrik, dimana rasio elektrifikasi Papua paling rendah seIndonesia (sekitar 40%). Sementara untuk harga BBM, sebelum tahun 2016 masih ada sekitar 15 kabupaten yang belum mempunyai SPBU dan APMS (agen penyaluran minyak dan solar) yang mendapatkan jatah subsidi BBM dari pertamina sehingga harga BBM menjadi sangat mahal dan berfluktuasi.

Memang banyak proyek yang diresmikan Jokowi ketika berkunjung ke Papua. Banyak proyek yang bagus bila terlaksana, seperti pembangunan pelabuhan, bandara, pasar, dan lain sebagainya. Tapi apakah semua proyek bagus dan visible ? Mari kita lihat..

Jokowi pernah menjanjikan akan membangun kereta api di Papua. Karena janji itulah bappenas dan kemenhub sebagai pelaksana membuat persiapan seperti melakukan feasibility study. Hasil studinya sih katanya 2015 selesai, tapi saya belum pernah membaca hasilnya. Kira-kira hasilnya tentu akan di-iya kan karena ini adalah janji presiden. Apakah benar-benar bisa terealisasikan ? Kalaupun terealisasikan, apakah benar-benar bisa masuk akal secara bisnis ?

Kereta dibangun secara umum untuk 2 tujuan, apakah prioritas untuk angkutan manusia, atau angkutan barang. Apabila untuk angkutan barang, barang apa yang mau diangkut ? Secara Papua tidak punya komoditas unggulan yang bisa diangkut seperti daerah lain yang punya batubara. Sementara bila difokuskan untuk angkutan manusia, ini manusia yang mana ? Apakah manusia hutan ?

Berita menyebutkan nantinya kereta api akan menghubungkan sorong dengan jayapura yang jarak totalnya sekitar 1.500 kilometer. Tentu ini panjang yang sangat WOW. Untuk proyek pertama akan dibangun Sorong ke Manokwari sepanjang 400km. Sebenarnya buat apa dibuat kereta api saya juga masih bingung. Untuk 400km ini katanya anggaran yang akan digelontorkan 10 triliun rupiah. Walaupun besar, saya rasa anggaran tersebut sama sekali tidak cukup. Kenapa ? Ya tentu saja masalah tanah ulayat. Hhhe. Saya yakin sekali, sampai cucu Jokowi pacaran dengan anak saya pun permasalahan pembebasan tanah di pembangunan rel kereta api ini tidak akan selesai. Target ground breaking pembangunan fisik rel kereta api Papua adalah 2018. Apakah benar akan terealisasikan ? Hanya waktu yang bisa menjawab. Silakan lanjutkan kehidupan anda sambil menunggu janji-janji Jokowi di Papua.

Selanjutnya presiden pernah berjanji untuk membangun Tol Laut di Papua. "Kalau sekarang ini misalkan semen di Jawa 50 ribu, di Papua bisa satu juta. Kenapa? Karena ongkos angkutnya, dengan tol laut itu bisa diatasi.” kata presiden ketika di awal-awal dulu berkunjung ke Papua. Pernyataan ini pasti sangat dibenarkan oleh para Jokowi Lovers dan sangat setuju dengan program Tol Laut. Benarkah demikian ?

Konsep tol laut dilontarkan Jokowi ketika kampanye dulu. Mungkin ini merupakan ide yang muncul begitu saja. Tapi karena sudah terlanjut dibicarakan, maka kanan kiri presiden mencari-cari ide bagaimana merealisasikannya. Hasilnya, blue print Tol Laut dibuat oleh Bappenas dan kemenhub. Intinya secara umum adalah toll laut merupakan peningkatan konektivitas jalur logistik nasional melalui jalur laut. Untuk itu dibangunlah infrastruktur pendukung seperti pelabuhan dan lainnya. Tapi saya melihat konsep ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dimasterplankan melalui MP3EI jaman SBY dulu. Hanya rebranding saja.

Namun yang membedakan adalah di Tol Laut ini karena presiden berjanji dapat menurunkan ongkos logistik, maka dibuatlah Kapal Tol Laut. Kapal ini nantinya akan membawa barang-barang logistik dengan harga murah. Bagaimana bisa murah? Ya tentu karena disubsidi. Tidak tanggung-tanggung. Selama 2016 pemerintah menyiapkan subsidi sebesar 220 miliar. Itu hanya subsidi untuk tiga trayek tol laut saja, belum termasuk subsidi dan pengadaan keperluan Tol Laut lainnya. Lalu bagaimana hasilnya ? Benarkah bisa menurunkan harga barang di Papua ?

Jayapura, 27 Oktober 2016.
Share This :

0 Comments