BLANTERWISDOM101

PAPUA DALAM OPINI : MITOS MAHALNYA HARGA BARANG DI PAPUA

Rabu, 12 Oktober 2016

Sebagai perayaan masa dinas 2 tahun penempatan resmi saya di Papua pada 5 november besok, sekaligus pertanda saya sudah menginjak tahun terakhir di Papua (aamiiin), saya akan menulis tulisan berseri opini saya tentang Papua. 
Disclaimer : Tulisan ini murni opini saya pribadi, sama sekali tidak mewakili opini institusi tempat saya bekerja. Dibaca hanya untuk hiburan saja. Tidak perlu share tulisan ini, cukup dibaca sendiri.
=================================================

Seri 1 : MITOS MAHALNYA HARGA BARANG DI PAPUA

Hal pertama yang orang pikirkan di Papua selain jauh, tentu saja “Mahaaal”. Apalagi media nasional sering memberitakan tentang mahalnya harga di Papua dimana semen 1 sak harga 500ribu. Benarkah Papua semahal itu ?

Jawabannya bisa iya bisa tidak. Barang mahal disini tentu ada sebabnya. Pertama, karena Papua itu jauuuuh sekali di timur Indonesia. Bayangkan, jarak Jayapura-Jakarta bila ditarik garis lurus itu 3.800 km. Padahal jarak dari London ke Moskow, hanya 2.400 km, atau dari Barcelona di selatan eropa ke Moskow di timur laut eropa yang hanya 3.400 km. Saking jauhnya, konon jaman dulu bila naik kapal laut dari jakarta ke Jayapura perlu waktu satu bulan. Sekarang pun naik kapal laut masih lama sih, masih perlu seminggu dengan transit di beberapa pelabuhan. Untung saja sudah banyak pesawat udara yang hanya perlu waktu 5,5 jam (Direct) atau 8 jam (transit).

Karena saking jauhnya, tentu harga angkut barang ke Papua mahal. Hal ini diperparah dengan tidak adanya komoditas dari Papua yang dikirim keluar Papua, kecuali sedikit hasil hutan seperti kayu dan kopi. Al hasil, pelaku ekonomi tidak menipu, untuk menutupi biaya maka bila kita mengirim kontainer dari jawa ke papua, kita akan dianggap mengirim jawa-papua PP. Biaya kirim 1 kontainer ukuran standar surabaya-jayapura harganya sekarang 18jutaan.

Faktor lain yang membuat mahal adalah dimana engkau akan mengirim barang. Papua ini terdiri dari kota pantai dan kota pegunungan. Tentu sebagai kota Pantai, Jayapura, Biak, Merauke, Timika, Nabire, Sorong dan kota yg ada pelabuhan lainnya akan menikmati harga barang yang tidak begitu mahal. Harga semen di Jayapura masih sekitar 80-100ribu per sak, relatif murah dibandingkan harga semen di jawa yg 70ribuan.

Tapi bila kita berbicara mengenai kota di Pegunungan, maka harga akan lain. Hal ini karena geografis Papua dimana di bagian tengah terdapat Pegunungan Jayawijaya yang membentang dari Nabire (di leher cendrawasih) sampai ke pegunungan bintang, bahkan sbnrnya sampai ke papua newguinea. Pegunungan tersebut sangatlah tinggi, dan juga masih berupa hutan hujan tropis yang sangat lebat. Oleh karena itu, sampai saat ini belum ada jalan tembus dari kota pantai ke daerah pegunungan.
Satu-satunya jalur distribusi ke kota pegunungan ya hanya lewat udara. Kota pegunungan terbesar, Wamena, menjadi pusat distribusi logistik. Disini harga normal semen per saknya sekitar 500-700ribu. Bila cuaca buruk dan penerbangan terganggu , harga semen per sak mungkin naik tapi tidak sampai 1 juta. Biaya angkut dari Jayapura ke Wamena untuk kargo sekitar 8ribu-10ribu per kilo. Tiinggal ditambah saja, bila beras sekilo di jayapura masih bisa dapat harga 15ribuan, di wamena ya paling tidak harga 25ribu.

Namun sayangnya, kota wamena bukan satu-satunya kota di pegunungan. Masih ada 9 Kabupaten lain yang ditopang oleh Wamena. 9 kabupaten tersebut mendapatkan barang dari wamena melalui jalan darat, bahkan ada pula yang masih harus lewat udara. Ada beberapa kabupaten yang belum tembus jalan darat dari wamena. Disinilah perbedaan harga mencolok dapat terjadi. Hal ini diperparah dengan tingkat keamanan di pegunungan tengah yang buruk. Sering terjadi penembakan oleh kelompok separatis.

Mahalnya barang di kota satelit wamena, seperti di Kota Mulia ibukota kabupaten Puncak Jaya, wajar bila melihat jalur distribusinya. Kota ini memang sudah tembus jalur darat dari wamena. Namun perlu perjuangan keras dengan risiko tinggi untuk mencapai kesana. Karena masih tergolong daerah merah dan juga jalan yang belum baik, setiap mobil yang hendak kesana harus dikawal polisi/TNI. Ada jadwal pengawalan, seminggu dua kali. Bila mobil sampai pos TNI bukan pas jadwal pengawalan, harus menunggu berhari-hari. Disini, sekali pengawalan, minimal harus ada iring-iringan 20-30 kendaraan, demi alasan keselamatan.

Namun semahal-mahalnya harga di Kota Mulia, masih tidak lebih mahal daripada di Kobagma, ibukota kabupaten mamberamo tengah. Kota ini (lebih tepat disebut desa yang dipaksakan jadi ibukota) belum dapat ditembus jalur darat ke wamena. Satu-satunya jalan hanya melalui udara dan hanya ada 1 flight menggunakan pesawat kapasitas 7 orang (maksimal beban angkut 1 ton) yang jadwalnya juga tidak menentu. Harga barang disana luar biasa mahal. Harga semen bisa mencapai 2,5juta per sak. Aqua (bukan merk aqua tapi) yang ukuran 600ml harganya 25ribu. Makan di pinggir jalan dengan menu ayam goreng harus siap-siap mengeluarkan uang 150ribu. Kalau ayamnya diganti ayam kampung satu ekor, harganya 1 juta rupiah per ekor.

Itulah kenapa harga-harga di Papua itu mahal. Wajar kok harga mahal karena memang biaya dan effort yang harus dikeluarkan penjual sudah mahal. Oleh karena itu, ketika Mr Joke’s ngeluarin program tol laut dan bilang bisa menurunkan harga di Papua, saya langsung bilang “bulsyiiiit...”.
Next, bila tulisan ini dilike lebih dr 50 orang, saya akan tulis seri berikutnya membahas tol laut dan ketidakefisiensiannya....

See yaa....
Jayapura, 12 Oktober 2016
Share This :

0 Comments