BLANTERWISDOM101

PAPUA DALAM OPINI : TOLERANSI UMAT BERAGAMA DI PAPUA

Kamis, 13 Oktober 2016
SERI 2 : TOLERANSI UMAT BERAGAMA DI PAPUA

Malam ini saya pulang agak cepat, pukul 19.00 WIT sudah keluar kantor. Biasanya jam 21.00 ato 22.00 baru pulang . Seperti bujang lapuk lainnya yang tidak ada yang masakin di rumah, saya dan teman mampir beli makan dulu. Dalam setahun terakhir ini menu makan malam kami cuma ada 4, kalau ngga ayam goreng, ya nasi goreng, masakan padang, atau sate gulai. Hanya 4 warung itu yang buka sampai larut malam. Itupun padang dan sate sudah tutup kalau diatas jam 9 malam.

Untuk kali ini diputuskan kami makan sate Aston. Warung sate ini memang cukup spesial. Penjualnya orang madura. Jualannya sate, gulai, dan soto. Harganya ? Sate ayam 30ribu. Sate kambing 45ribu. Jangan berfikir ini warung sate berbentuk restoran sehingga harganya mahal. Ini hanya warung kecil di pojokan, terselip diantara bangunan hotel yang sedang dibangun dan pasar Mama-Mama Papua yang beberapa waktu lalu diresmikan pembangunannya oleh Mr. Jokes. Tempat makannya hanya ada meja besar berbentuk huruf U, dengan 3 kursi panjang. Kapasitas pengunjung hanya 12 orang saja. Wajar bila setiap hari orang yg ingin makan wajib menunggu. Bisa 15 menit, bisa 30 menit, tergantung panjangnya antrian. Sudah lebih dari 2 bulan tidak makan di tempat ini, saya memesan gulai. Rasanya enak, khas gulai di jawa.


Selesai makan, ada dua orang anak kecil umur 10 tahunan, pakai peci, sambil membawa kotak amal bertuliskan Bantuan Pondok Pesantren XX. *saya tidak perhatikan nama pesantrennya. Karena sudah seringnya orang meminta-minta berkedok bantuan seperti itu, ketika mereka mendatangi, saya hanya bilang “tidak dek, terimakasih” sambil mengangkat tangan yang berarti “No Way”.

Selesai makan dan membayar, saya lihat kedua anak itu masih di luar sambil tengok kanan kiri. Sepertinya mereka tidak dapat apa-apa dari warung sate itu karena semua orang menolak memberi sedekah. Tiba-tiba sebuah peristiwa yang sangat menggetarkan jiwa terjadi. Tukang parkir orang Papua yang sering nongkrong di pojokan warung itu, yang sering malak, yang sering mabok-mabokan, yang sering marah jika tidak dikasih duit, yang saya yakin agamanya bukan Islam, tiba-tiba saja memanggil kedua adik itu dan memasukkan beberapa lembar uang ke kotak amal tersebut. Mereka mengucapkan terimakasih berkali-kali dan pergi. Saya sempat memotret.

Sungguh, tiba-tiba hati ini terasa ditampar dari jarak dekat. Bagaimana bisa saya sama sekali tidak tersentuh untuk memberikan sekedar seribu atau dua ribu ke adik tersebut, tapi justru malah orang yang (maaf) hanya berprofesi sbg tukang parkir, yang sering saya lihat mabuk-mabukan, beda agama lagi, malah dengan ikhlas memberikan sebagian rizkinya kepada dua anak berpeci yang memegang kotak bertulisan “Bantuan Pondok Pesantren”.

Tapi itu lah cerminan kehidupan beragama di Papua, terutama di Jayapura. Semua umat beragama disini saling menghormati dan menghargai. Walaupun mayoritas di Papua pemeluk agama kristen, namun muslim disini tetap dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan baik. Masjid dan mushola ada dimana-mana. Tiap masuk waktu sholat, suara adzan bersahut-sahutan. Diantara gereja-gereja besar, terdapat masjid. Tapi masyarakat tidak saling mengganggu. Ketika sholat ied pun begitu. Saya sudah 3x sholat ied pas hari raya kurban di Papua (semoga tidak ke-4 kalinya) dan semuanya dapat sholat ied di tempat terbuka. Umat muslim dapat merayakan hari raya kurban dan menyembelih hewan kurban dgn bebas.

Saya sudah pernah mengunjungi setidaknya 12 kota di Papua. Untuk kota-kota yang banyak pendatangnya, banyak terdapat masjid. Bahkan di luar kota yang masih sepi penduduk pun masih terdapat masjid dan mushola. Memang untuk kota-kota kecil yang pernah saya kunjungi, hanya ada sedikit masjid, bahkan di Yahukimo saya hanya menemukan 1 masjid. Walaupun demikian, namun masing-masing umat dapat menjalankan keyakinannya sendiri-sendiri dan hampir tidak pernah terjadi gesekan.

Kejadian di Tolikara tahun lalu memang sempat membuat sedikit tegang, terutama umat di luar Papua. Kalau di dalam Papua sih, justru tenang-tenag saja. hehhehe. Sama lah seperti ketika masa pilgub DKI gini, masyarakat jakarta mah tenang-tenang saja, justru orang luar jakarta yang ramai. hhihihi.

Justru dari kejadian itu lah, saat ini Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) di Papua ditingkatkan. Dari kejadian itu pada ulama dan pendeta semakin intens bertemu dan berdiskusi bagaimana menjaga keamanan dan kerukunan umat beragama di Papua. Semoga kerukunan umat beragama ini dapat terus dijaga.

Terlepas dari itu semua, ada beberapa Perda yang dirasa cukup diskriminatif. Contohnya adalah perda di Jayapura yang melarang toko dan warung makan buka sampai jam 12 siang pada hari minggu. Hal ini untuk memberikan kesempatan bagi umat kristen pergi ke gereja. Tentu saja ini sangat menyiksa bagi bujang seperti saya yang tidak bisa masak, sehingga setiap hari minggu terpaksa harus puasa sampai jam 12 siang

Jayapura, 13 Oktober 2016
Share This :

0 Comments