BLANTERWISDOM101

TELKOMSEL DI PAPUA : SI GADIS YANG JUAL MAHAL DAN TUKANG PHP

Selasa, 25 Oktober 2016
Kejadian ini sudah kali ke lima si Telkomsel ngambek lagi. Entah harus berapa kali saya nulis tentang kekecewaan konsumen Telkomsel di Papua. Masih sama seperti yang dulu, kabel fiber optik ke Jayapura putus lagi, dan lagi-lagi telkomsel belum menyiapkan sistem backup untuk standar koneksi minimal.

Saya sangat menghargai usaha Telkom grup yang bikin jaringan fiber optik sampai Papua. Dulu ketika sebelum ada jaringan optik, internet di Papua lambat. Kecepatan download paling banter hanya mencapai 300 KBps. Tapi semenjak jaringan kabel optik masuk, dan telkomsel memperkenalkan 4G, kecepatan download bisa mencapai 4 MBps. 

Sayangnya, kecepatan 4G tersebut berkali-kali lenyap gara-gara kabel optik putus. Seingat saya, sejak jaringan fiber optik dikenalkan akhir tahun 2015, ini sudah kali ke-5 Jayapura mengalami putus total. Permasalahan utama adalah masyarakat (baca : Gue) sudah menganggap kebutuhan internet cepat merupakan kebutuhan primer. Sehingga ketika jaringan putus dan sama sekali tidak bisa akses internet, suara-suara makian itu terdengar semakin santer. 



Putusnya kabel fiber optik ini juga menyebabkan putusnya harapan para netter di Jayapura. Yang kami minta sebenarnya bukan kecepatan yang cepatnya sampai 4MBps, cukup kecepatan yang bisa untuk mengakses internet sekedar untuk whatsapp, baca berita, dan bersosial media. Namun ketika kejadian seperti ini, kami sama sekali tidak bisa membuka web apapun. Telkomsel mengaku sudah menyiapkan backup plan bandwidth cadangan sebesar 950 Mbps melalui satelit, tapi kenyataannya sama saja, untuk sekedar mengirimkan pesan whatsapp saja bisa pending 6-10 jam, apalagi untuk stalking mantan di path/Instagram, sampai sang mantan punya anak 2 pun juga dijamin kagak bisa kebuka tuh aplikasi. 

Sudah sejak jaman Soeharto masih muda konsumen di Papua membayar biaya seluler sangat mahal. Tidak adanya competitor menyebabkan telkomsel memaksimalkan willingness to pay konsumen sampai batas tertinggi. Memang, tidak ada yang salah. Dalam ilmu ekonomi memang demikian, ketika tidak ada kompetitor maka maksimalkanlah profitmu sampai batas tertinggi konsumen mampu membayar. Bisa dibandingkan sendiri biaya telepon, internet, dan sms di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan biaya di Jawa. Ilmu ekonomi pula lah yang juga mengajarkan bahwa monopoli itu tidak baik bagi konsumen karena tidak ada trigger bagi produsen untuk meningkatkan kualitas layanannya. Memang sih ada perbaikan, dari awalnya 2G menjadi 3G. Dari 3G menjadi 4G. Tapi ya begitulah kura-kura, peningkatan layanan itu hanyalah PHP semata. Seperti si gadis cantik yang berkali-kali memberikan harapan bagi para cowok untuk mendekatinya, padahal dia sudah punya cowok

*saya harus menunggu subuh untuk bisa mengupload tulisan ini. Hal baiknya, orang-orang jadi rajin bangun pagi dan jamaah sholat subuh di masjid jadi agak banyakan dibandingkan sebelumnya.

Jayapura, 25 Oktober 2016.
Share This :

0 Comments