BLANTERWISDOM101

PAPUA DALAM CERITA (4) : NONTON LIGA INDONESIA RASA TARKAM

Sabtu, 05 November 2016
Apa yang masyarakat Jayapura banggakan ? Yang pertama dan paling utama tentu saja Persipura Jayapura. Tim kebanggaan masyarakat Jayapura ini sudah berhasil menjadi juara beberapa kali. Di lambangnya ada bintang 4, mungkin sudah juara 4x. Persipura memang sudah menjadi salah satu tim elite di kancah liga sepakbola nasional sejak belasan tahun yang lalu. Banyak nama pemain nasional yang berasal dari tim ini. Menurut saya wajar, karena dengan dukungan penuh pemerintah provinsi dan kota, ditambah guyuran uang puluhan miliar dari Bank Papua dan PT Freeport Indonesia.

Dalam 2,5 tahun tinggal di Jayapura, baru satu kali saya menonton langsung pertandingan kandang Persipura. Dulu waktu di sleman, hampir setiap PSS Sleman main saya selalu menonton. Padahal stadion Mandala markas Persipura tidak jauh, satu arah dengan rumah tempat saya tinggal.
Pertama kali nonton persipura dulu sewaktu kompetisi masih dibanned sama kemenpora. Saya nonton Bhayangkara cup, Persipura vs Persija waktu itu. Dulu harga tiket hanya 75ribu dapat tribun utama sebelah barat.

Minggu kemarin saya nonton pertandingan ISC antara Persipura Jayapura VS Sriwijaya FC. Datang selepas sholat ashar, saya mendapati stadion sudah penuh. Cari tempat parkir saja susah. Karena sudah sadar datang terlambat, saya langsung menuju loket tribun barat dengan tujuan nonton di tribun utama sebelah barat untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Hal ini karena pertama kali nonton persipura dulu, saya langsung terkena semprotan pinang penonton sebelah. Yaaa, nonton Persipura di kandang harus siap-siap kena ludah pinang. Hehehe. Itulah kenapa waktu nonton kali ini saya memakai celana pendek, biar kalau pun kena ludah pinang, tidak mengotori celana panjang karena susah dibersihkan.

Ternyata harga tiket tribun utama 200ribu rupiah. Mahal amat. Karena terlalu mahal, saya geser ke bagian utara yang katanya menjual tiket tribun utara dan timur. Tanya orang yang juga sedang cari tiket, katanya harga tiket paling murah 10ribu. Karena antrian masih panjang dan masyarakat yang antri pada kunyah pinang semua, saya coba cari-cari calo di dekat situ. Dapatlah calo, jual tiket seharga 30ribu. Katanya di tribun liverpool. Saya bertanya-tanya, apa itu tribun liverpool. Jawabnya itu tribun sebelah utara. Ya sudah, saya ambil itu tiket, daripada beli tribun utama seharga 200ribu. Setelah tiket dipegang, ternyata itu tiket seharga 10ribu, dia jual 30ribu. Gila, calo di sini gak tanggung-tanggung ambil untungnya.



Masuk ke dalam stadion, saya langsung menuju tribun utara sesuai tiket. Sampai di bagian pemeriksaan tiket, petugas teriak “Wooi, ko pu tiket tribun liverpool, ko duduk di situ di rumput”. Waduuh, ternyata tiket saya bukan di tribun utara belakang gawang, melainkan di sebelah barat daya, antara tribun utara dan tribun utama. Yang paling parah, ternyata tribun liverpool itu bukan tribun penonton, melainkan hanya tanah miring tak bersemen yang ditumbuhi rumput-rumput liar. “Haduuh, mati aku”, batin saya. Karena terpaksa dan tidak mungkin kembali untuk beli tiket lagi ya saya mau tidak mau ikut nonton disitu bersama para penonton masyarakat asli Papua lainnya, toh pertandingan babak pertama sudah berlangsung setengah jalan.

Stadion Mandala saya lihat penuh sesak sore itu. Menonton disini mengingatkan saya nonton PSS kala bermain di stadion Tridadi. Stadion ini tidak terlalu besar, dengan tribun mirip tridadi. Hanya tribun timur sudah ada atapnya. Dan tentu rumput stadion yang bagus, selevel dengan MIS.
Namun nonton pertandingan kandang tim sekelas persipura jangan disamakan dengan nonton kandang PSS Sleman yang hanya bermain di kasta kelas kedua. Walaupun sudah juara berkali-kali, Persipura tidak mempunyai dukungan suporter fanatik yang kuat. Terbukti dengan 2x saya nonton persipura, Persipuramania (suporter persipura) hanya ada sekitar 100 orang yang bernyanyi mendukung tim kesayangannya. Sedikit sekali. Sangat kontras bila pernah merasakan atmosfer Maguwoharjo Internasional Stadium yang luar biasa meriahnya dengan kehadiran suporter Slemania dan BCS.

Saya yang saat itu memakai jersey persipura, hanya bisa berandai-andai, kapan saya bisa menonton pertandingan kandang PSS Sleman lagi. Terakhir nonton PSS secara langsung sudah 2 tahun yang lalu, sebelum ditempatkan di Papua. Jersey boleh persipura, kota boleh jayapura, tapi hati ini tetap milik PSS Sleman. Bravo PSS Sleman. Terbanglah tinggi Elang Jawa. Segeralah naik ke kasta tertinggi biar saya bisa nonton kamu di Jayapura !

Jayapura, 5 November 2016.
Share This :

0 Comments