BLANTERWISDOM101

PAPUA DALAM CERITA (5) : SARMI, KABUPATEN 1.000 JEMBATAN

Senin, 14 November 2016

Minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi daerah baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya kesana dalam rangka tugas kantor, yaitu pembentukan TPID. Apa itu TPID ? Jangan tanya Prabowo karena tidak bisa menjawab, tanyalah Jokowi . Silakan klik tombol like kalau senang dengan tulisan ini, biar nanti saya ceritakan pengalaman saya di daerah lain di Papua. 
====================================================


Kabupaten Sarmi, terletak 350 km sebelah barat Jayapura, salah satu dari 3 kabupaten yang dapat terjangkau jalan darat dari Jayapura. Karena dapat ditempuh dengan jalur darat, orang bilang kabupaten tersebut cukup maju dibandingkan kabupaten pemekaran lainnya. Diperlukan 8 jam perjalanan untuk sampai sana. Karena lama itulah saya dan manajer berangkat dari Jayapura pagi hari dengan harapan tidak kemalaman di jalan. Kondisi jalan yang belum semuanya baik membuat kami memilih untuk sewa mobil fortuner dibandingkan pakai mobil MPV sekelas Inova/avanza.

Perjalanan melewati Danau Sentani yang indah itu. Kanan kiri ditemani bukit-bukit teletubies dengan sesekali pemandangan danau Sentani terlihat. Danau ini memang mempunyai daya tarik sendiri. Setiap orang yang turun di bandara Sentani, apalagi yang baru pertama kali, pasti dibuat kagum. Saya pun baru sadar bahwa danau ini sangat luas. Perjalanan menelusuri pinggir danau sentani baru berakhir setelah satu jam perjalanan.

Usai melewati danau sentani, tibalah kami di daerah Nembokran. Daerah ini cukup maju untuk sebuah distrik di barat danau Sentani, terutama ditopang oleh para transmigran. Karena sudah 3 jam perjalanan dan waktu menunjukkan pukul 12.00, kami beristirahat makan siang sembari sholat dzuhur. Daerah ini merupakan pitstop terakhir sebelum masuk ke jalan panjang menuju Sarmi yang tidak ada warung makan.

Meneruskan perjalanan, kami menempuh jalan yang semakin banyak lobang. Mulai daerah ini, semakin banyak ditemui jembatan. Ya, bila sudah banyak menemui jembatan, tandanya sudah mendekati Sarmi. Kabupaten Sarmi memang terkenal dengan kabupaten dengan jumlah jembatan paling banyak. Saya hitung-hitung, antara Jayapura ke Sarmi mungkin ada sekitar 100 buah jembatan, dalam jarak antara nembokran ke sarmi yang berjarak sekitar 200km. Artinya, rata-rata tiap 2 km terdapat jembatan. Memang sih, tidak semua jembatan adalah jembatan besar, tapi setidaknya panjang jembatan paling pendek sekitar 20meter.

Tragisnya, dari sekitar seratusan jembatan yang dilalui, 75% jembatan belum berupa jembatan permanen. Kebanyakan jembatan hanya berupa pohon yang direbahkan lalu diberi papan. Sementara disampingnya, terdapat “calon” jembatan yang baru berupa tiang pancang dan sudah berlumut. Seperti jembatan mangkrak. Memang ada beberapa jembatan yang sedang dalam proses pengerjaan, tapi itu bisa dihitung dengan jari, tidak lebih dari 10.

Saya berpikir, betapa beratnya pemerintah bila ingin membangun jalan yang mulus Jayapura-Sarmi. Membangun jalan mungkin mudah karena tinggal memperbaiki jalan yang sudah ada, tambah kerikil, lalu dilapisi aspal hot mixed. Tapi, bangun jembatan? Sangat butuh tenaga dan pengawasan ekstra. Bila satu tahun bisa selesai 10 jembatan saja sudah bagus. Artinya baru 10 tahun semua jembatan itu selesai. Apalagi, selentingan dari driver, bahwa sebenarnya tiap tahun pemerintah telah mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk membangun jembatan-jembatan itu. Tapi karena permainan oknum pemenang tender, jembatan itu banyak yang mangkrak. Banyak modus nakal yang biasa terjadi. Kata driver, itu pun terjadi di daerah yang “cukup” terjangkau oleh Jayapura, ibukota Provinsi. Bagaimana dengan pembangunan daerah-daerah lain di pegunungan sana ? Semakin banyak modusnya. Untuk bagian ini mungkin saya perlu ceritakan dalam tulisan tersendiri. Anehnya, jaksa, polisi, ataupun KPK sama sekali tidak ada yang berani menyentuh Papua. Itulah kenapa dana otsus triliunan seperti menguap begitu saja, infrastrktur tetap jelek, dan masyarakat Papua tetap miskin.

Oke, lanjut ke cerita awal. Sepanjang perjalanan ditemui beberapa kampung yang jaraknya berjauhan. Yang paling besar adalah Bonggo. Distrik Bonggo besar karena disinilah dulunya banyak ditaruh transmigran asal jawa. Di Papua, kata distrik digunakan untuk menyebut satuan wilayah Kecamatan.
Mendekati kota Sarmi, pengguna jalan harus hati-hati. Banyak anjing dan babi berkeliaran. Seringkali anjing dan babi disini sok menguasai jalan, dengan berjemur dan tidur-tiduran di tengah jalan. Untuk hal ini mobil yang lewat harus hat-hati jangan sampai menyenggol si anjing dan babi, karena bisa mendatangkan denda senilai harga hewan yang ditabrak plus anak cucu cicitnya. Ditambah lagi kerugian immateriel. Sekali kena bisa didenda senilai motor ninja. Hhehhe.
==========bersambung===========
Share This :

0 Comments