BLANTERWISDOM101

MENCARI PEMIMPIN AMANAH DARI DAERAH

Kamis, 15 Desember 2016
Pertamakali saya mendengar nama beliau adalah ketika Abah Dahlan menyebut beliau dalam beberapa tulisannya. Dalam tulisan itu diceritakan beliau adalah seorang pemimpin muda yang visioner. Itu adalah tulisan abah tentang beliau 4 tahun lalu. Empat tahun berlalu, beliau semakin sukses menjadi pemimpin di daerahnya. Banyak kemajuan yang telah dicatatkan. Media nasional pun mulai melirik dan mengundang beliau dalam beberapa talkshow. Namun sayangnya baru sedikit, sehingga banyak orang yang tidak tahu dan belum pernah meliat beliau. Demikian juga saya. Sampai hari selasa kemarin, saya belum pernah sekalipun mendengarkan beliau berbicara. Jangankan bicara, lihat fotonya saja belum pernah. Beliau adalah Bapak Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi. Beliau salah satu bupati termuda. Pada periode pertamanya dulu, tahun 2010, beliau baru berusia 36 tahun sewaktu dilantik. Prestasinya selama menjabat 6 tahun ini sangat luar biasa. Beberapa diantaranya adalah peningkatan ekonomi yang luar biasa, pembangunan bandara blimbingsari dari yg awalnya tidak ada maskapai yang mau masuk sekarang setidaknya sudah ada 3 flight sehari, peningkatan pariwisata, dan lain sebagainya. Bisa panjang lebar kalau dijelaskan disini, silakan googling sendiri untuk lengkapnya.

Sampai akhirnya hari rabu kemarin, saya berkesempatan melihat dan bertemu secara langsung dengan beliau. Pertama kali mendengar dan melihat beliau berpidato, hati saya langsung jatuh hati dengan pemimpin yang satu ini. Beliau berpidato dan memberikan kata sambutan tanpa teks dan persiapan. Walaupun demikian, dari gaya bicara dan pemilihan katanya, saya tahu kalau beliau sangat-sangat pintar dan punya visi yang luar biasa. Konon katanya, pemimpin yang bagus itu bisa dilihat dari gaya pidatonya. Beliau seperti sangat sangat menguasai permasalahan. Bukan hanya itu, Pak Anas juga terlihat pintar dimata saya karena beliau tahu dan paham apa itu reformasi structural, economic growth, inflasi, dll. Beliau juga sepaham dengan saya tentang kebijakan proteksionis untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Setelah saya kepo-in di google, ternyata beliau alumni S1 dan S2 dari UI. Woaalaah, wajar saja.

Satu hal yang saya harus belajar banyak dari beliau adalah soal komitmen dan janji. Sewaktu membuka acara BI, beliau baru saja tiba dari Jakarta. Padahal hari sebelumnya baru selesai acara larut malam di Jakarta, lalu pakai pesawat ke Surabaya yang jam 4 pagi dan lanjut flight ke banyuwangi jam 6 pagi. Diantara kesibukannya, pak bupati masih menyempatkan untuk memberikan kata sambutan di acara BI yang sebenarnya tidak terlalu bersinggungan dengan pekerjaan utamanya. Beliau hadir hanya untuk menyambut kedatangan BI di banyuwangi. Bukan hanya itu, saya terkesan dengan beliau sewaktu sudah berjanji untuk hadir makan malam, padahal beliau masih memimpin rapat sampai jam 9 malam. Kami kira pak Anas tidak akan hadir sehingga pukul 9 malam kami sudah membubarkan diri. Tidak disangka, jam 9 malam tepat beliau hadir diantara kami hanya untuk menyapa dan menanyakan pesan kesan. Yang semakin membuat saya kagum, pak anas datang hanya dengan mobil inova. Bupati mana coba yang mau naik inova. Beliau datang jg hanya dengan ditemani supir dan asprinya. Tanpa protokol dan ba bi bu seperti pemimpin-pemimpin lainnya.
Sepulang dari acara makan malam itu saya teringat beberapa kepala daerah yang seperti beliau, ada pak ridwan kamil, bu risma, pak nurdin Abdullah, dan lainnya. Mungkin banyak pemimpin daerah di Indonesia yang seperti beliau. Berprestasi, visioner, pintar, dekat dengan rakyat, sederhana tanpa terikat protokoler, dan yang penting bagi saya adalah seiman. Kenapa seiman? Ya karena saya muslim. Kalau anda nonmuslim tentu kecenderungannya akan memilih pemimpin yang seiman juga to. Itu wajar.



Selama ini kita sering mendengar pilihan, mending pilih mana pemimpin muslim tapi korupsi atau pemimpin nonmuslim tapi tidak korupsi ? Saya sangat tidak setuju dengan pilihan tersebut. Seakan-akan tidak ada pemimpin muslim yang berprestasi dan tidak korupsi di Indonesia. Padahal kenyataanya banyak kok. Cuma sayangnya mereka belum mendapatkan tempat di panggung perpolitikan nasional. Hanya sedikit yang terekspos media.

Terakhir, to the point, di tulisan ini saya cuma ingin menyampaikan bahwa pemimpin-pemimpin terbaik itu bukan hanya yang selama ini kita dengar di TV dan media. Bukan pula hanya pemimpin yang seliweran di medsos. Kita perlu mengenal kepala daerah kita, bukan hanya kenal kalau dia tertangkap korupsi saja. Saya berharap pemimpin-pemimpin visioner seperti pak Anas ini yang akan terpilih di tingkat yang lebih tinggi lagi. Saya menjagokan pak Anas untuk Jawa Timur pada 2018 nanti. Untuk presiden di 2019, saya menjagokan Pak Ridwan Kamil. Untuk Jakarta ? Aaah auuuk ah, ktp saya bukan Jakarta dan saya tinggal di Papua.

Begitulah kura-kura…..

Banyuwangi, 15 Desember 2016
Share This :

0 Comments