BLANTERWISDOM101

AUSTRALIAN ROADTRIP : PROLOGUE

Kamis, 28 Juni 2018
Seharusnya sudah 5 tahun lalu saya ke Australia. Pada saat hampir lulus kuliah. Ketika masih terobsesi menjadi pilot. Keinginan yang sempat kabur. Karena orang tua tidak punya uang. Untuk memasukkan anaknya ke sekolah pilot.

Keinginan kuat tersebut membuat saya cari cara buat dapat uang cepat. Untuk membiayai sekolah pilot. Akhirnya ditemukanlah caranya : Kerja di Australia. Menggunakan Working Holiday Visa (WHV). Saat itu jenis visa ini masih sangat terbatas, hanya 100 orang per tahun. Bandingkan dengan saat ini yang sudah 1.000 per tahun. Informasi tentang WHV juga masih sangat terbatas. Hal itu membuat saya berinisiasi membuat grup Facebook Working Holiday Visa. Yang saat ini sudah beranggotakan 25ribu member.

Walaupun menjadi founder grup itu, tapi saya tidak pernah menginjakkan Australia. Karena pada saat apply pas bertepatan dengan ketegangan Indonesia-Australia. Pada saat itu beredar kabar pemerintah Australia, yang dipimpin PM Tony Abbott, menyadap telepon petinggi-petinggi negara kita. Akhirnya kerenggangan itu berdampak pada penghentian pemberian WHV. Sampai batas waktu tak ditentukan. Dan baru dibuka 8 bulan kemudian, ketika saya sudah sibuk skripsi dan persiapan sidang.
Kesibukan itu membuat saya tidak minat lagi dengan WHV. Yang juga kebetulan setelah wisuda saya diterima kerja. Membuat kisah pilot dan WHV Australia saya tamat.

Sebagaimana tulisan sebelumnya, saya dan istri memutuskan untuk tidak mudik pada Idul Fitri kemarin. Gara-gara promo Garuda. Dan juga Jokowi. Kenapa bawa2 Jokowi ? Karna rezim beliau membuat keputusan libur lebaran yang panjang. Membuat fakir cuti seperti saya berfikir 2x untuk melewatkannya.

Singkat cerita, kami menghabiskan 2 minggu di Australia. Dimulai tanggal 9 dan pulang tanggal 24 Juni. Bukan dengan jalan-jalan biasa. Namun dengan Roadtrip. Sewa mobil untuk menjelajahi Australia. Dari Brisbane ke Melbourne.
 

Mobil yang kami sewa pun bukan mobil biasa. Kami menyewa Campervan. Mobilnya Toyota HiAce. Yang telah dimodifikasi. Sehingga kami bisa bobo disitu. Ganti baju disitu. Masak juga disitu. Yang dilengkapi dengan kulkas, microwave, alat2 makan, alat2 masak, tempat cuci piring, dan lainnya.
Perjalanan kemarin kami menempuh jarak lebih dari 3.200 km. Melewati 5 kota besar di east coast. Lengkap dengan pantai dan pemandangan countryside-nya. Serta pengalaman lainnya yang tak terlupakan.

Kami juga membawa misi ingin mengunjungi sebanyak mungkin masjid di kota yang dilewati. Ada lebih dari 10 masjid. Masing-masing dengan cerita tersendiri.

Perjalanan ini sebenarnya sangat riskan. Kami tidak punya cukup waktu untuk mempelajari A to Z. Tidak sempat membuat itinerary detail. Padahal Australia adalah hal yang baru. Terutama karena harus menyetir. Yang membuat harus paham aturan mainnya. Risikonya jelas : kehilangan uang. Karena di Australia, sedikit-sedikit denda !.

Kita semua juga tahu bahwa biaya hidup di Australia mahal (pake banget). Untuk ukuran gaji Indonesia. Namun alhamdulillah kami mendapat banyak pertolongan dari teman-teman istri saya. Lebih dari setengah perjalanan kami habiskan menebeng di rumah teman. Yang sangat menghemat daripada sewa hotel. Dan juga lebih baik daripada harus kedinginan di campervan.
Alhamdulillah, 14 hari telah selesai. Saya dan istri dapat kembali ke Indonesia. Membawa pengalaman roadtrip yang luar biasa. Cerita perjalanan akan kami bagikan berseri. Jadi tunggu saja. Tentu dengan syarat : selama tidak sibuk dengan kerjaan kantor.

Tegal, 28 Juni 2018
Share This :

0 Comments