BLANTERWISDOM101

MENCICIPI BANDARA BARU SEMARANG

Minggu, 08 Juli 2018
Australian Road Trip : Day 1 


Selepas sahur kami beres-beres. Kami kemasi lagi barang-barang yang sekiranya dibutuhkan. Sudah coba sepadat mungkin, seminimal mungkin, sedikit mungkin. Tapi tetap saja hasilnya banyak : 2 Koper besar dan 2 tas backpack. Isinya : pakaian hangat, 2 pasang jaket, long john, 2 sleeping bag, beberapa barang & makanan titipan teman, serta lain-lain (baca : serba-serbi agar tidak kedinginan). Kami memang hendak roadtrip. Belum tahu medan. Yang tahu adalah Australia sedang winter. Dingin. Kalau siang 9-13 derajat. Kalau malam bisa 4 derajat. 

Dihitung-hitung, bawaan kami sangat banyak. Dibandingkan dulu. Dulu 2 minggu traveling hanya bawa tas 25 liter. Sekarang sepertinya saya sudah tidak pantas lagi disebut backpacker. Karena tidak berprinsip backpacker dalam membawa bawaan traveling. Tapi tetap untuk urusan tiket dan biaya traveling, gaya backpacker masih nomor 1. 

Pukul 6 pagi kami OTW ke bandara. Kami tidak berangkat dari Tegal langsung. Sudah berada di Semarang sejak 3 hari yang lalu. Berangkat dari bandara Ahmad Yani Semarang. Dan kebetulan, hari itu baru hari ke-4 terminal baru beroperasi. Lumayan, sekalian nyoba bandara baru.


Lokasi terminal baru bandara Ahmad Yani Semarang berseberangan dengan terminal lama. Saya cukup sering menggunakan bandara Semarang. Kalau mau ke Bali. Walaupun jauh dari Tegal dan tiketnya mahal, tapi harus sering-sering ke Bali. Untuk tengok istri. 

Dibandingkan terminal lama, terminal baru ini terasa sangat megah dan modern. Luasnya 9x dari yang lama. Terminal lama sangat kecil, sangat tidak layak jadi bandara utama sebuah provinsi besar. Kalah sama anaknya, bandara Solo. Bahkan juga kalah dengan bandara Jogja yang juga kecil.
Pembangunan terminal baru Semarang sebenarnya sudah wacana dari dulu. Sejak menteri BUMN Pak Dahlan Iskan. Uangnya sudah disiapkan. Kontraktornya sudah ada. Desain sudah dibuat. Namun terkendala masalah lahan. Pemilik lahannya TNI. Tapi Alhamdulillah sepeninggalan abah, permasalahan itu terselesaikan dan pembangunan dapat direalisasikan. 



Taksi kami memasuki kawasan terminal baru. Jalannya lebar. Kanan-kiri masih banyak umbul-umbul. Masih ada spanduk tulisan selamat datang Presiden RI. Masih banyak puluhan karangan bunga ucapan selamat, Area kedatangannya pun luas dan panjang, untuk memfasilitasi penumpang yang datang menggunakan mobil. 

Terminal baru ini merupakan terminal apung pertama di Indonesia. Berdiri di atas rawa. Dengan konsep eco green airport, bandara terkesan modern. Penggunaan kaca diperbanyak. Dengan demikian waktu siang, lampu dalam airport tidak perlu banyak yang dinyalakan. 

Memasuki area check in, antrian tidak terlalu panjang. Terdapat cukup banyak counter check in dengan desain modern. Check in internasional dan domestik tidak dibedakan ruangannya. Karena saat ini rute internasional dari Semarang baru 2, ke Kuala Lumpur dan Singapura. Langit-langit sangat tinggi untuk memberikan kesan lapang bagi penumpang. 

Selesai urusan check in, langsung berjalan ke area ruang tunggu. Masih diperlukan jalan kaki sekitar 5 menit lagi menuju ruang tunggu. Sebelah kiri terdapat taman penuh teratai. Dengan kursi dan payung santai di dalamnya. Bisa untuk bersantai kalau waktu boarding masih lama. Menuju ruang tunggu, kanan-kiri masih dipenuhi dengan triplek yang dicat dan digambar agar terkesan tidak kosong plong. Mungkin ke depan kanan kiri itu akan dijadikan toko-toko. Di tengah jalan, hati hati, harus belok kiri, karena kalau tidak anda akan masuk ke area internasional. Tulisan internasional tidak terlalu kentara. Banyak penumpang domestik yang tersasar ke area internasional. Untuk ada petugas avsec yang mengarahkan. 


Ruang tunggu internasional tidak terlalu besar. Seingat saya hanya ada 1 ruang. Mungkin karena belum banyak rute internasionalnya juga. Karena konsep eco green yang banyak kacanya, setengah bagian kursi terkena sinar matahari langsung. Karena kursi penuh, mau tak mau saya duduk di bagian yang panas itu. Untung masih pagi, sinarnya masih sehat, cukup untuk menyehatkan kulit saya yang jarang berolahraga dan kerjanya sering di ruangan. 

Menunggu 1 jam untuk panggilan boarding tidak terasa lama. Karena disambi baca Disway.id. Oh ya lupa cerita, untuk menuju ke Australia, kami naik AirAsia dulu. Ke Kuala Lumpur. Baru dari sana kami naik Garuda. Menuju Melbourne. Tapi transit ke Jakarta dulu. Sampai Melbourne lanjut pesawat lagi ke Brisbane.

Untuk mendapatkan yang murah biasanya butuh pengorbanan. Alih-alih pengen cepat sampai ke tujuan, saya baru akan sampai Brisbane 30 jam lagi. Masih sangat lama. Untung ada istri yang setia menemani.


Tegal, 8 Juli 2018
Share This :

0 Comments